Sharing Scanner Menggunakan Raspberry Pi dan SANE

Setelah mengkonfigurasi Print Server, dilanjut sharing scanner melalui jaringan menggunakan Raspberry Pi. Printer yang saya pakai Canon MP160, merupakan printer multifungsi selain berfungsi untuk mencetak juga dilengkapi pemindai scanner. Agar fitur scanner juga bisa diakses via jaringan harus mengkonfigurasi SANE pada Raspberry PI.

raspi-sane-pict

Konfigurasi SANE

Paket yang harus diinstal adalah sane-utils dan libsane, ternyata pada Raspbian Wheezy (Raspbmc) keduanya sudah terpasang saat menginstall CUPS untuk print server kemarin. Kalau belum diinstal silakan jalankan apt-get.

Cek scanner yang tersambung
$ sane-find-scanner
###
found USB scanner (vendor=0x04a9 [Canon], product=0x1714 [MP160]) at libusb:001:005
found USB scanner (vendor=0x0424, product=0xec00) at libusb:001:003
###


$ scanimage -L
device `pixma:04A91714' is a CANON Canon PIXMA MP160 multi-function peripheral

Selanjutnya edit konfigurasi /etc/sane.d/saned.conf agar bisa diakses via jaringan lokal, masukkan IP subnet yang digunakan misal 192.168.0.0/24.

#/etc/sane.d/saned.conf
#scan-client.somedomain.firm
192.168.0.0/24

Kemudian mengaktifkan SANE daemon (saned), edit file /etc/default/saned dan jalankan service.

# /etc/default/saned
RUN=yes
RUN_AS_USER=saned

Jalankan Saned
$ /etc/init.d/saned start

Konfigurasi Komputer Klien

Konfigurasi pada Linux, mengedit /etc/sane.d/net.conf masukkan alamat IP server. Untuk aplikasinya bisa menggunakan XSane. Untuk openSUSE seperti biyasa menggunakan yast, hardware -> scanner -> others -> Scanning via Network, kemudian pada “client setting” masukkan IP server.

Untuk MacOS X menggunakan Twain Sane Interface for Mac OSX, sedangkan untuk Windows menggunakan SaneTwain. Perlu juga dicoba akses SANE scanner pada gajet Android, menggunakan aplikasi InSaneScanner.

Uji Coba

Saya coba untuk memindai gambar ukuran A4 dengan kualitas scan resolusi rendah 75 dpi sampai resolusi 600 dpi, cukup lancar dan kualitas gambar cukup bagus. Berikut ini screenshoot proses menggunakan perintah ‘top’ dan lalu-lintas jaringan saat memindai dengan resolusi 600 dpi.

raspi-sane-pict-02
Cek proses menggunakan ‘top’

raspi-sane-pict-03
Cek lalu-lintas jaringan menggunakan ‘iftop’, server Raspi: 192.168.0.102, client: 192.168.0.103

Share

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus
  • LinkedIn
  • Email
  • Add to favorites

Raspberry Pi sebagai Print Server

Selain untuk hiburan Raspberry Pi juga saya gunakan untuk memudahkan pekerjaan — sebagai Print Server. Laptop tersambung ke WIFI rumah langsung terhubung ke print server tak perlu ribet mendekat ke meja printer colok kabel USB.

Saya masih menggunakan paket instalasi Raspbmc, karena baru punya 1 buah Raspi jadi dalam satu mesin saya gunakan sebagai media center sekaligus print server dan mungkin nanti untuk keperluan lainnya juga *maksa*. Beruntunglah Raspbmc berbasis Raspbian Wheezy didukung repostiorinya sehingga fleksibel untuk menambah paket aplikasi yang dibutuhkan.

Jadi gini, untuk print server saya akan mengkonfigurasi Raspberry Pi dengan printer Canon MP160, menginstal CUPS, kemudian menginstall printer di komputer client via Internet Print Protocol (IPP).

Konfigurasi Print Server
Menginstal CUPS sekaligus paket pedukungnya.
$ sudo apt-get install cups

Konfigurasi user untuk otorisasi manajemen printer, memasukkan user pi sebagai anggota grup lpadmin.
$ sudo usermod -aG lpadmin pi

Mengaktifkan sharing printer dan membuka akses untuk remote admin
$ sudo cupsctl --share-printers --remote-printers --remote-admin

Jalankan CUPS
$ sudo /etc/init.d/cups start

Kemudian mengakses manajemen CUPS via web https://{Alamat IP Raspi}:631/admin/, tambahkan printer baru (add new printer). Tipe printer saya terdeteksi Canon MP160, Pilih make/manufacture: RAW, dengan setelan ini maka beban CPU pada print server lebih ringan dan proses pencetakan lebih cepat, tetap nanti di komputer client harus disetel driver printer yang sesuai. Dengan sistem demikian, print server tidak dapat melakukan pencetakan sendiri, bila di-test print melalui web interface CUPS tidak ada respon, jadi pencetakan hanya bisa dari Komputer client.

Saya pernah mencoba konfigurasi print server, setelan CUPS dipasang driver sesuai printernya, proses pencetakan lambat dan print spooling lama.

raspi-printsrv-01

Karena sistem berbagi-pakai printer menggunakan IPP, untuk setelan di komputer client menggunaka url printer ipp://{Alamat IP Raspi}:631/printers/Canon_MP160 atau menggunakan protokol http untuk setelan di MS Windows.

Instalasi Printer pada Komputer Client
Konfigurasi di Linux, saya menggunakan openSuse jadi cukup memakai Yast. Buka setelan printers, pilih Print via Network, saya lebih prefer memilih “Do All Printing Directly via One Single CUPS server”, kemudian masukan alamat IP print server. Lanjut, pilih device driver yang sesuai, terakhir coba klik test printer.

raspi-printsrv-02

Konfigurasi pada Mac OSX, buka setelan Printer pada System Preference. Add printer — biyasanya otomatis mendeteksi printer yang di-share di jaringan. Kemudian sesuaikan driver printer-nya.

raspi-printsrv-03

Konfigurasi pada Windows 7, Tambah printer baru, pilih “Add a network, wireless or Bluetooth printer”, biarkan aplikasi memindai printer bila tidak ditemukan klik “The printer that I want isn’t listed”. Selanjutnya, masukan url printer http://{Alamat IP Raspi}:631/printers/Canon_MP160 pada “Select a shared printer by name”. Terakhir pilih driver pinternya.

Bila klien kebanyakan menggunakan Windows sebaiknya juga mengkonfigurasi print sharing via Samba Share. Untuk perangkat yang berbasis Mac bisa mengkonfigurasi AirPrint.

Sebagai tambahan, untuk performa pencetakaannya cukup cepat meski Raspi sedang digunakan untuk memutar film.

Referensi:
CUPS is too slow, how can I make it faster?

Share

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus
  • LinkedIn
  • Email
  • Add to favorites

Wayang Kulit

Semua tahu, wayang Kulit warisan budaya nenek moyang juga sebagai Warisan Budaya Dunia karena nilai filosofisnya. Alkulturasi berbagai budaya, India, Arab, Jawa bahkan Eropa. Pada jamannya tontonan ini pasti ngehits.

Wayang Kulit

Kapan terakhir nonton wayang?

Mungkin banyak yg bilang gak pernah, lupa atau malah jawabannya mbuh kapan.. ya seperti biyasa yang tradisional itu gak mainstream, segelintir saja yang melirik. Tapi saya yakin wayang kulit ini tidak bakal punah. Masih ada yang peduli, masih ada sekolah pedalangan, dan masih ada mas Donny dengan Museum Wayangnya.

Pertunjukan wayang juga masih banyak digelar, ada yang rutin seperti di Bangsal Srimanganti Kraton Jogja, Sasono Hinggil Alun-alun Kidul, Tembi Rumah Budaya, dsb. Ada juga pas ada acara tertentu. Pengrajin Wayang Kulit juga masih eksis, di Pucung, Wukirsari, Imogiri atau di Dusun Gendeng Bangunjiwo.

Nek pertanyaan di atas itu ditanyakan ke anak saya (4th kurang dikit), jawabnya mungkin barusan liat wayang di tablet atau tivi. Sejak usia 2 th dia suka seni tradisional, gamelan, upacara tradisi, wayang, dan sejenisnya. Nek disuruh milih dibelikan mobil2an atau wayang, pasti pilih wayang.

Dia kepengen belajar ndalang, njuk kira-kira di mana ya tempat belajar ndalang untuk bocah?

Share

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus
  • LinkedIn
  • Email
  • Add to favorites

Raspberry Pi Media Center: Berbagi-Pakai Multimedia via Samba

Hiburan di rumah tambah seru setelah membuat TV LED 32″ biyasa menjadi Smart TV menggunakan Raspberry Pi (RaspBMC) ditambah fitur remote control dan addons favorit. Nah, sekarang mengoptimalkan berbagi-pakai (sharing) file multimedia antar semua perangkat dengan menghubungkan media center berbasis RaspBMC dengan PC/Laptop dan gajet melalui jaringan rumah. Sehingga mudah mengakses file di semua perangkat untuk ditayangkan di TV, berikut ini yang saya implementasikan di rumah.

Samba atau SMB (Server Message Block) adalah protokol filesharing standar Windows network, yang bisa berjalan di platform Linux, Mac, dsb. Pertama, mengkonfigurasi Samba Server untuk membuat Raspberry Pi Media center sekaligus sebagai NAS (Network Attached Storage) dengan storage utama berupa External Hardisk terhubung via USB.

Beruntung Raspbmc terbaru keluaran bulan Juni kemarin sudah terpasang paket Samba Server versi 3.6.6. Sedangkan versi sebelumnya harus menginstal paket Samba lewat apt-get. Padahal sebelumnya saya berwacana menulis tentang instalasi samba server di RaspBMC, yah.. versi baru tidak perlu banyak ngoprek.

Untuk konfigurasi Samba, mungkin hanya mengubah setting /etc/samba/smb.conf — netbios name dan workgroup disesuaikan dengan keingginan. Setelan Samba Server bawaan RaspBMC, netbios name: Raspbmc, workgroup: Workgroup, Samba username: pi dan password: raspberry, shared folder ada 2 yaitu pi (user) dan devices (berisi external storage terpasang).

Saatnya dicoba, sebelumnya saya sudah mengkonfigurasi filesharing di Windows, Samba di openSUSE, Macbook dan Android. Saya coba browse Samba Network seperti gambar di bawah ini.

Browse via Mac
smb-raspbmc

Browse via XBMC
smb-xbmc

Oh ya.. sebagai tambahan, untuk Samba Server di Android saya menggunakan aplikasi Samba Filesharing for Android tapi khusus gajet Android yang akses root sudah dibuka. Untuk Samba Client, bisa menggunakan aplikasi filemanager seperti file explorer bawaan Stock ROM, ES File Explorer dan sejenisnya.

Oke, semua sudah tersambung. Sekarang bisa membackup file foto/video di Ponsel hasil jalan-jalan kemarin via WIFI langsung ke storage yang dipasang di Media Center, tinggal ditayangkan di TV. Atau sebaliknya, dari Media center memutar file multimedia yang tersimpan di perangkat lain.

Selain menggunakani protokol Samba, XBMC (RapsBMC) juga mendukung sharing multimedia via UPnP/DLNA, Zeroconf, NFS. Besok ngoprek lagi kalau sedang selo…

Share

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus
  • LinkedIn
  • Email
  • Add to favorites